Kamis, 30 Mei 2013

Nichiren Shoshu di Indonesia


Nichiren Syosyu di Indonesia
(NSI)
Makalah Revisi
Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat pada
Mata Kuliah Buddhisme

Dosen Pembimbing :
Siti Nadroh
Oleh :
Nurjaman
(1111032100056)
JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2013
A. Pendahuluan
Pada pertemuan yang lalu kita telah membahas agama Buddha yang ada di Jepang. Dimana ketika memasuki abad ke-13 M. beberapa aliran baru muncul di jepang, sejalan dengan perselisihan dan perebutan kekuasaan di antara para penguasa, atau sejak pada tahun 624 timbullah mazhab/aliran-aliran yang bermacam-macam di Jepang. Aliran–aliran baru  tersebut anatara lain aliran Cha’an yang di Jepang disebut dengan Aliran Zen, aliran Amida (Tanah Suci), dan Nichiren Syosyu.[1]
Nichiren Syosyu adalah salah satu sekte dalam agama Buddha yang ada di Jepang  yang mengakui Nichiren Daishonin[2] sebagai pendirinya dan Nikko Syonin sebagai pewaris hukumnya.

B. Nichiren Syosyu di Jepang
1.      Nichiren Daisonin dan Ajaranya
Nichiren Syosyu lahir di Jepang oleh pendirinya Nichiren Daishonin (1222-1282),  yang asal mulanya dari sekte Tendai (Jep). (T’ien-t’ai).[3] Ia dilahirkan pada tanggal 16 Februari 1222 di sebuah desa nelayan kominato di Tokyo, Propinsi Awa, derah Chiba. Ayahnya bernama Mikuni No Toyo dan ibunya bernama Umegiku-Nyo. Nama kanak-kanaknya adalah Zen Nichi Maro. Pada usia 12 tahun ia memasuki suatu kuil dari sekte T’ien-T’ai bernama Seicho-Ji, dimana ia mempelajari baik ajaran-ajaran Buddhisme maupun pendidikan umum, dibawah pendeta Dozen-bo.
Pada waktu itu, kekuasaan politik di Jepang telah bergesar dari kaum ningrat istana kekaisaran di Kyoto kepada golongan Samurai yang mendirikan suatu pemerintah militer, atau keshogunan, di kota Kamakura, di pantai Pasifik jauh dari Kyoto, tempat kedudukan tradisional dan kuno dari kaisar.[4]
Di kancah Internasional, gerombolan-gerombolan mongol mengamuk dan bergerak, seperti badai besar ke arah India, tempat Buddhisme secara praktis telah dilenyapkan dari kehidupan agama rakyat.[5]
Adapun ajaran-ajaran dari Nichiren Daisonin:[6]
a.      Nam-myoho-renge-kyo,
b.      Gohonzon,
c.       Teori ‘kaida’
Selain ajaran tersebut Nichiren Daisonin juga meramalkan, jika yang berwajib tetap mengingkari hukum yang benar, dua bencana besar akan menimpa jepang. Diantaranya:[7]
a.        Penyerbuan orang asing
b.       Perang saudara yang meluas
2.      Perbedaan Nichiren Syosyu dengan Nichiren Syu
Pada saat itu tidak hanya Nichiren Syosyu saja, tetapi masih ada sekte-sekte yang lain yang ada di Jepang  seperti Nichiren Shu dan Soka Gakai. Adapun salah satu yang membedakan antara Nichiren Syosyu dengan Nichiren Shu terletak pada Tri Ratnanya (tiga pusaka agung).[8] Sebagaimana uraian Tri Ratna masing-masing sekte dibawah ini:
            Tri Ratna menurut Nichiren Syosyu:[9]
a.       Buddha: Nichiren Daisonin
b.      Dharma: Dai Gohonzon
c.       Sangha: Nikko Syonin

Tri Ratna menurut Nichiren Syu:[10]
a.       Buddha: Buddha Sakyamuni yang abadi
b.      Dharma: Nam-myoho-renge-kyo
c.       Sangha: Nichiren Daisoni
Sebagai konsekuensi dari aplikasi ini dari Tiga Pusaka Buddha kedalam observasi yang sebenarnya dari ajaran kejiwaan, Konsentrasi Nichiren Syosyu sendiri adalah membaca Saddharma Pundarika Sutra semata-mata hanya Bab 2 dan 16. Pelajarannya hanya di bab ini, dan juga mengambil ajaran dari T’ien T’ai, tetapi dasar dari semua pelajaran adalah Goibun (Gosho) atau tulisan Nichiren Daisonin.[11]
Konsentrasi Nichiren Shu (seperti dalam kasus dengan kebanyakan sekte Nichiren lainnya) membaca semua isi Saddharma Pundarika Sutra, belajar semua ke-28 Bab dari Saddharma Pundarika Sutra, dasar lain adalah melalui pemujaan dan perghormatan terhadap Buddha Sakyamuni Yang Abadi dan ajaran dari guru besar dharma, T’ien T’ai dari China, dan semua tulisan (Goibun atau Gosho) Nichiren daisonin.[12]

C. Nichiren Syosyu Indonesia
Setelah kurang lebih 700 tahun agama Buddha Nichiren Syosyu berkembang di Jepang, mulailah tersebar luas keseluruh dunia, termasuk ke Indonesia. Agama  Buddha Nichiren Syosyu masuk ke Republik  Indonesia sekitar tahun 1950.[13]
Berkembang mula-mula di Jakarta. Sejak kepemimpinan Senosoenoto, agama Buddha Niciren Syosyu berkembang luas hingga ke desa-desa. Hingga tahun 2005 ini umatnya telah tersebar di berbagai pelosok Indonesia.[14] Pada tahun 1960-an mulai dibentuk pertemuan-pertemuan diskusi untuk mempelajari agama Buddha Nichiren Syosyu. Keadaan ini terus berlangsung sehingga terbentuklah Yayasan Buddhis Nichiren Syosyu Indonesia pada tahun 1969 yang berkedudukan di jalan Padang 27, Jakarta Selatan.
Pada awalnya perjuangan agama Buddha Nichiren Syosyu belum terarah  dan banyak menimbulkan kesalah pahaman. Tetapi setelah peralihan puncak pimpinan yang langsung ditangani oleh Bapak Senosoenoto (kini sebagai ketua Umun Majelis Agama Buddha Nichiren Syosyu Indonesia). Pada tahun 1980 perjuanggan untuk menyebarkan agama Buddha Nichiren Syosyu telah terprogram dengan uraian sebagai berikut:[15]