Nichiren
Syosyu di Indonesia
(NSI)
Makalah
Revisi
Disusun
untuk Memenuhi Salah Satu Syarat pada
Mata
Kuliah Buddhisme
Dosen
Pembimbing :
Siti Nadroh
Oleh
:
Nurjaman
(1111032100056)
JURUSAN
PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS
USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2013
A.
Pendahuluan
Pada
pertemuan yang lalu kita telah membahas agama Buddha yang ada di Jepang. Dimana
ketika memasuki abad ke-13 M. beberapa aliran baru muncul di jepang, sejalan
dengan perselisihan dan perebutan kekuasaan di antara para penguasa, atau sejak
pada tahun 624 timbullah mazhab/aliran-aliran yang bermacam-macam di Jepang.
Aliran–aliran baru tersebut anatara lain
aliran Cha’an yang di Jepang disebut
dengan Aliran Zen, aliran Amida (Tanah Suci), dan Nichiren Syosyu.[1]
Nichiren
Syosyu adalah salah satu sekte dalam agama Buddha yang ada di Jepang yang mengakui Nichiren Daishonin[2]
sebagai pendirinya dan Nikko Syonin
sebagai pewaris hukumnya.
B. Nichiren Syosyu di Jepang
1.
Nichiren Daisonin dan
Ajaranya
Nichiren
Syosyu lahir di Jepang oleh pendirinya Nichiren Daishonin (1222-1282), yang asal mulanya dari sekte Tendai (Jep).
(T’ien-t’ai).[3] Ia
dilahirkan pada tanggal 16 Februari 1222 di sebuah desa nelayan kominato di
Tokyo, Propinsi Awa, derah Chiba. Ayahnya bernama Mikuni No Toyo dan ibunya bernama Umegiku-Nyo. Nama kanak-kanaknya adalah Zen Nichi Maro. Pada usia 12 tahun ia memasuki suatu kuil dari
sekte T’ien-T’ai bernama Seicho-Ji, dimana ia mempelajari baik
ajaran-ajaran Buddhisme maupun pendidikan umum, dibawah pendeta Dozen-bo.
Pada
waktu itu, kekuasaan politik di Jepang telah bergesar dari kaum ningrat istana
kekaisaran di Kyoto kepada golongan Samurai yang mendirikan suatu pemerintah
militer, atau keshogunan, di kota Kamakura, di pantai Pasifik jauh dari Kyoto, tempat
kedudukan tradisional dan kuno dari kaisar.[4]
Di
kancah Internasional, gerombolan-gerombolan mongol mengamuk dan bergerak,
seperti badai besar ke arah India, tempat Buddhisme secara praktis telah
dilenyapkan dari kehidupan agama rakyat.[5]
Adapun
ajaran-ajaran dari Nichiren Daisonin:[6]
a.
Nam-myoho-renge-kyo,
b.
Gohonzon,
c.
Teori
‘kaida’
Selain
ajaran tersebut Nichiren Daisonin juga meramalkan, jika yang berwajib tetap
mengingkari hukum yang benar, dua bencana besar akan menimpa jepang.
Diantaranya:[7]
a. Penyerbuan orang asing
b. Perang saudara yang meluas
2.
Perbedaan Nichiren
Syosyu dengan Nichiren Syu
Pada saat itu tidak hanya Nichiren
Syosyu saja, tetapi masih ada sekte-sekte yang lain yang ada di Jepang seperti Nichiren Shu dan Soka Gakai. Adapun
salah satu yang membedakan antara Nichiren Syosyu dengan Nichiren Shu terletak
pada Tri Ratnanya (tiga pusaka agung).[8]
Sebagaimana uraian Tri Ratna masing-masing sekte dibawah ini:
Tri Ratna menurut Nichiren Syosyu:[9]
a. Buddha:
Nichiren Daisonin
b. Dharma:
Dai Gohonzon
c. Sangha:
Nikko Syonin
Tri
Ratna menurut Nichiren Syu:[10]
a.
Buddha:
Buddha Sakyamuni yang abadi
b.
Dharma: Nam-myoho-renge-kyo
c.
Sangha:
Nichiren Daisoni
Sebagai konsekuensi dari aplikasi ini
dari Tiga Pusaka Buddha kedalam observasi yang sebenarnya dari ajaran kejiwaan,
Konsentrasi Nichiren Syosyu sendiri adalah membaca Saddharma Pundarika Sutra
semata-mata hanya Bab 2 dan 16. Pelajarannya hanya di bab ini, dan juga
mengambil ajaran dari T’ien T’ai, tetapi dasar dari semua pelajaran adalah
Goibun (Gosho) atau tulisan Nichiren Daisonin.[11]
Konsentrasi Nichiren Shu (seperti dalam
kasus dengan kebanyakan sekte Nichiren lainnya) membaca semua isi Saddharma
Pundarika Sutra, belajar semua ke-28 Bab dari Saddharma Pundarika Sutra, dasar
lain adalah melalui pemujaan dan perghormatan terhadap Buddha Sakyamuni Yang
Abadi dan ajaran dari guru besar dharma, T’ien T’ai dari China, dan semua
tulisan (Goibun atau Gosho) Nichiren daisonin.[12]
C.
Nichiren Syosyu Indonesia
Setelah
kurang lebih 700 tahun agama Buddha Nichiren Syosyu berkembang di Jepang,
mulailah tersebar luas keseluruh dunia, termasuk ke Indonesia. Agama Buddha Nichiren Syosyu masuk ke Republik Indonesia sekitar tahun 1950.[13]
Berkembang
mula-mula di Jakarta. Sejak kepemimpinan Senosoenoto, agama Buddha Niciren
Syosyu berkembang luas hingga ke desa-desa. Hingga tahun 2005 ini umatnya telah
tersebar di berbagai pelosok Indonesia.[14] Pada
tahun 1960-an mulai dibentuk pertemuan-pertemuan diskusi untuk mempelajari
agama Buddha Nichiren Syosyu. Keadaan ini terus berlangsung sehingga
terbentuklah Yayasan Buddhis Nichiren Syosyu Indonesia pada tahun 1969 yang
berkedudukan di jalan Padang 27, Jakarta Selatan.
Pada
awalnya perjuangan agama Buddha Nichiren Syosyu belum terarah dan banyak menimbulkan kesalah pahaman. Tetapi
setelah peralihan puncak pimpinan yang langsung ditangani oleh Bapak
Senosoenoto (kini sebagai ketua Umun Majelis Agama Buddha Nichiren Syosyu
Indonesia). Pada tahun 1980 perjuanggan untuk menyebarkan agama Buddha Nichiren
Syosyu telah terprogram dengan uraian sebagai berikut:[15]